Kamis, 16 Mei 2013

Sampah Buat Mereka Sadar


“SAYA BERJANJI TIDAK AKAN MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN. BAIK ITU DI RUMAH, DI SEKOLAH, DI PERJALANAN, DAN DI TEMPAT-TEMPAT UMUM, TIDAK MENCORAT-CORET PAGAR DAN TEMBOK, TIDAK MERUSAK BUNGA-BUNGA DI TAMAN…” saat ikrar hidup bersih dibacakan oleh petugas upacara kelas 6 dan seluruh siswa harus mengikuti apa yang dibacakan, Jono salah satu murid kelas 4 SD tidak mengikuti ikrar tersebut.
“Amiin…” ucap Jono seperti layaknya berdo’a.
“Heh Jono! Kamu bukannya mengikuti ikrar, malah nyebut amiin! Kamu kira kita lagi do’a bersama apa!” teman Jono yang bernama Doni memperingatkan dengan kesal.
“Ssst.. jangan bersisik (berisik) Don! Kita lagi upacara tidak baik lho marah-marah saat upacara berlangsung. Oke Don!” balas Jono dengan santainya yang malah membuat Doni makin kesal.
“Uugght!! Kalau aja kamu bukan temanku, udah di kempesin juga perut kamu Jon!” ancam Doni
“Tapi sayangnya, aku teman kamu! Hahaha” ujar Jono dengan bahagia karena Doni tidak jadi memukulnya.

Jono memang orang yang mengesalkan, selalu saja ada cara untuk membuat orang lain takluk padanya. Di mata teman-temanya pun, Jono bukan hanya mengesalkan, tapi menyebalkan, ya…walaupun bercanda Jono biasa saja, tapi bisa menjadi luar biasa saat Jono mulai membalas ejekan temannya dengan tampang yang bisa membuat orang lain ingin sekali menonjok kearah mukanya yang menyebalkan.
Tak terasa akhirnya upacara bendera telah selesai. Seluruh siswa merasa bahagia dan saling bertubrukan untuk pergi ke kantin.
“Heh Udin…tungguin aku dong! Main ninggalin aja peliharaanku yang satu ini!” sahut Jono dengan seenaknya.
sekarepmu lah Jon! Mau manggil peliharaan kek, pembantu kek, yang penting aku ini masih berbaik hati nungguin kamu tahu! Huh.” jawab Udin dengan kesal terhadap sahabatnya sendiri.
Sebenarnya mereka ini mempunyai sifat yang hampir sama dari kelakuan, sampai kebiasaannya pun mereka selalu sama, sehingga tidak akan ada ketersinggungan dalam bercandaan mereka. Bisa di bilang sih Jono dan Udin ini sahabat yang paling dekat, paling akrab, paling romantis, paling menyebalkan, pokoknya paling paling deh. Saking sama nya sifat mereka, tak sedikit orang lain sebal dengan bercanda mereka berdua. Ya…walaupun tidak semua bercandaan mereka bernilai negatif, tapi bila dilakukan sesering mungkin, wajar bila orang lain sebal dengan mereka. Namun, Jono dan Udin ini sangat berpengaruh pada keadaan di kelas. Kebanyakan anak memang sangat sebal dengan sahabat sejoli itu, tapi apa yang bisa ditertawakan selain dua sahabat ini, tanpa mereka, kelas menjadi sepi, sunyi, terntram, hampir miri dikit-dikit lah dengan suasana kuburan. Tanpa mereka juga kelas tidak akan bersih, karena Udin dan Jono ini selalu tidak mengerjakan PR, selalu mengobrol saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung, mereka selalu diberi hukuman untuk membersihkan isi ruangan kelas. Dapat dilihat bahwa tanpa mereka berdua kelas tidak akan seperti Tempat Pembuangan Sampah (TPS) lagi.
“Din, ke kantin yuk! Haus nih!” ajak Jono
“Ayo aku antar kamu, lihat tampang kamu sudah kecut begitu bagaikan bunga bangkai yang kekeringan. Aku tidak tega melihatnya. Aaah” belas kasih Udin terhadap Jono dengan ejekan yang terselip di ucapannya.
“Aaah kemenyan!! Pujianmu sungguh indah sekali! Lihat balasanku nanti!” balas Jono
Diam-diam Jono meninggalkan Udin dengan secepat kilat pergi ke kantin dengan Udin yang berusaha mengejarnya. Di sekumpulan orang banyak, Udin planga plongo mencari Jono yang sedari tadi sudah pergi kekantin lebih dulu.
“Mana ya…si kembang bangkai itu! Main ninggalin saja rupanya!” ucap Udin
“Din, aku di sini!” sahut Jono dari kejauhan.
Setelah mereka selesai minum hasil bawaannya dari kantin, Jono dan Udin membuang kemasan makanan ke bawah meja, dan tidak sengaja teman sekelasnya yang bernama Denis melihat kelakuan mereka.
“Hei kalian! Buang sampah itu jangan sembarangan! Di luar kan ada tempat sampah, gih sana buang ke tempatnya!” ucap Denis memberi peringatan.
“Emang situh guru kita? Main nyuruh-nyuruh saja rupanya!” bantah Jono.
“Aku tidak bermaksud menggurui, tapi ini kan kelas kita bersama, kebersihan dan kenyamanan pun kita rasakan bersama-sama. Bila kelas kotor, otomatis proses belajar menegajar tidak akan berjalan dengan lancar.” Ujar Denis
Tiba-tiba Kimmy, cewek yang disukai Jono datang dan tidak sengaja mendengar perselisihan antara mereka bertiga.
“Maaf memotong pembicaraan kalian, sebenarnya ada apa? Kok pada ribut begini?” Tanya Kimmy dengan manis.
“Mereka tuh tidak mau membuang sampah pada tempatnya! Mungkin sama kamu, mereka akan mau membuang sampah pada tempatnya Mi..” usul Denis
“Bilang aja kamu hanya ingin terlihat wah di depan Kimmy kan?” tuduh Jono
“Tidak kok. Aku hanya ingin kelas ini selalu bersih dan rapi itu saja. Tidak ada maksud apa-apa untuk terlihat hebat di depan Kimmy.” ujar Denis
“Yasudah, minggir…minggir aku mau membuang sampah dulu. Ayo Din!” jawab Denis dengan kecut sambil mengajak Udin keluar.
Tett…tett..tett.. bel sekolah berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai.
“Selamat pagi anak-anak…” sahut bu Linda, guru mata pelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) masuk dengan membawa hasil praktik pembuatan kerajinan yang berbahan dasar sampah.
“Selamat pagi juga ibuu…” sapa anak-anak dengan semangat.
“Ibu… itu apa? Kok banyak sekali?.” Tanya Kimmy dengan sopan.
“Oh ya, ini kerajinan atau bisa juga benda pakai yang berbahan dasar sampah seperti tempat tissue, tempat pensil, dan masih banyak lagi yang dibuat oleh teman-teman kalian di kelas 4B. Nah, sampah-sampah ini disebut sampah non-organik atau sampah kering yang masih bisa didaur ulang menjadi benda pakai. Tugas kalian adalah membuat sebanyak mungkin kerajinan yang berbahan dasar sampah non-organik. Tampilannya harus menarik ya! Lumayan kan, kalau kerajinan kita bagus, kita bisa menghasilkan uang dari sampah sekalipun” jelas bu Linda
“Berarti ibu menyuruh kita untuk jualan dong. Kita kan masih kecil bu.. masa disuruh jualan yang begituan, nanti bangsa ini mau jadi apa kalau rakyatnya mulungin sampah semua bu?” tanya Udin dengan polos dan berdiri dengan gayanya yang lebay
“Sudah bu, abaikan saja si Udin! Lemotnya lagi mode:on tuh bu, jangan di ladenin nanti capek bu..” Jono merendahkan Udin.
“Iya, pake acara bawa-bawa bangsa segala lagi! Yang bu Linda maksud itu bukan kepengen kita jadi pemulung, tapi kita sebagai anak SD juga bisa menghasilkan uang dengan mendaur ulang sampah hasil kreatifitas kita, kalau kamu mau jadi pemulung mending kamu aja deh sendiri, kalau aku sih ogah! Hahaha” timbrung Doni
“Iya Din, betul kata Doni, jika kita mempunyai kreatifitas yang tinggi, kita bisa menghasilkan uang dari hasil daur ulang sampah sekalipun. Mengerti kan kamu Udin?” tanya bu Linda dengan penuh perhatian.
“Iya bu Udin mengerti.” ucap Udin mengerti.
“Tumben cepet Din..” ujar Doni.
“Cepet apanya Don??” tanya Udin dengan anehnya.
“Ngertinya hahaha” Doni dan anak-anak tertawa terbahak-bahak.
Bel berbunyi dan seluruh siswa berkeluaran gerbang. Lama, lama, dan lama anak-anak semakin sedikit terlihat, hanya ada Jono dan Udin yang sedari tadi menunggu angkot arah rumahnya muncul.
“Haduh…angkotnya mana sih?? Kok belum nongol juga yak? Ujar Udin tak sabar.
“Kayaknya dari semua angkot yang melewat ke sini, angkot arah rumah kita tak ada deh Din. Mending kita jalan kaki aja yuk!” ajak Jono dengan pasrah.
Setelah lama berjalan kaki dan sudah menempuh jarak yang lumayan jauh, Jono melihat kearah TPS yang di mana di situh pemulung sedang bekerja.
“Din, lihat deh” Jono mengajak Udin sambil menunjuk kearah TPS tersebut.
“Iya Jon, kasihan sekali ya pemulung itu.” Ucap Udin.
“Bukan pemulung itu! Lihat deh betapa banyaknya sampah di kota metropolitan ini, aku baru sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan.” Ujar Jono dengan prihatin.
“Hahaha udah Jon, percuma kalau kita hanya menyesali perbuatan kita selama ini, yang harus kita lakukan adalah mendaur ulang sampah dengan mengerjakan tugas PLH, kita juga ikut meminimalisasikan tumpukan sampah di sekitar kita” ujar Udin dengan kata-kata bijak buatannya.
“Ciiee… Udin pintar hahaha” Jono meledek Udin sampai membuatnya Gede Rasa (GR)
“Hehehe udah ah, aku jadi malu. Eh, itu angkotnya! Ayo Jon naik!” Udin dan Jono segera menaiki angkot
Akhirnya mereka berdua sampai di rumah dengan selamat dan perasaan lelah karena harus berjalan kaki setengah jalan.
Assalamu’alaikum… Jono pulang!” sahut Jono.
wa’alaikum salam… kamu sudah pulang Jon? Tumben pulangnya lama?” ibu Jono heran.
“Iya mak, tadi Jono sama Udin hampir gak dapat angkot, terus mau gak mau, kami harus berjalan kaki dulu deh. Oiya mak, emak punya sampah gak?” setelah Jono menceritakan kejadian tadi, ia langsung ingat tugas PLH nya.
“Hah sampah? Edan toh, emangnya gak ada hal lain untuk dipertanyakan selain sampah Jon?” ibu Jono terkejut.
“Yah mak, maksud Jono sampah yang bisa didaur ulang jadi kerajinan itu loh mak.. ada gak mak?” tanya Jono tak sabar.
“Oh kalau itu sih emak gak punya Jon, coba kamu cari di sekitar taman” usul ibu Jono.
“Yaudah deh mak, Jono mau jadi pemulung dulu sementara sama Udin” Jono pamit dengan ibunya.
Saat Jono menutup pagar rumahnya dengan terburu-buru karena ingin segera sampai ke rumah Udin, tiba-tiba orangnya sudah ada di belakang punggung Jono sedang terpaku menunggu Jono menutup pagar. Mereka saling bertukar pendapat dalam mencari sampah non-organik. Akhirnya Jono mengusulkan untuk pergi ke taman dan Udin menyetujuinya.
Sesampainya di taman, Jono terkejut dengan keadaan sekitar yang penuh dengan sampah.
“Ya ampun Din, kacau banget tamannya kayak kapal pecah!” ujar Jono.
“Iya Jon kayak pesawat sukhoi yang jatuh di gunung salak” balas Udin dengan sedikit bercanda campur prihatin.
Jono dan Udin saling membagi tugas. Jono di sebelah kiri dekat air mancur sedangkan Udin di sebelah kanan dekat kursi taman dan pepohonan.
“Ya ampyuun… sampahnya banyak kalee…andaikan aku jadi wali kota nanti, aku bakal suruh warga untuk kerja bakti membersihkan fasilitas umum, eh tapi.. pikir-pikir dahulu saja deh, masalahnya, aku sendiri aja belum bisa buang sampah pada tempatnya, apalagi membersihkan ini yang luasnya pake banget hehehe.” ujar Jono berbicara pada diri sendiri sambil mencari sampah.
“Assiikk dapet banyak nih, kayaknya kalau dijual ke pemulung lumayan nih tanpa harus di modif jadi barang pakai. Si jono udah dapet banyak belum ya?” Udin berfikir untuk menjual sampah yang barusan ditemukan daripada untuk mengerjakan tugasnya.
Setelah mereka berdua selesai dengan pencariannya, Jono dan Udin saling mencari-cari dan akhirnya bertemu di bawah pohon rindang.
“Din, udah dapet banyak belum?” sahut Jono.
“Noh, aku udah dapet setengah dari karung itu. Oiya kita cari tempat duduk dulu yuk! Capek nih!” ujar Udin yang sedang kecapean.
Tetesan demi tetesan keringat yang mengalir di sekujur tubuh mereka, tidak membuat mereka menyesal akan kegiatan yang mereka lakukan, yaitu memungut sampah.
Aduh senang sekali ya Din, melihat halaman taman yang sekarang bebas dari sampah ini, rasanya asri gimana gituuh hehehe”celetuk Jono di saat suasana sunyi.
“Hahaha iya Jon, ada benar juga yang dikatakan Denis tadi pagi di sekolah, kalau lingkungan bersih, kita juga yang merasakan keasriannya, begitupun sebaliknya, kalau lingkungan di sekitar kita kotor, kita juga yang merasakan penyakit datang menghampiri kita.” kata Udin dengan bijak.
“Eh, tunggu deh perasaan Denis gak ngomong sebanyak itu, jangan-jangan kamu ngarang sendiri ya Din? Ciiee Udin puitisi hahaha” Jono memuji Udin sampai membuatnya GR.
“Hehehe sekarang aku sadarJon, betapa pentingnya menjaga lingkungan, kalau bukan kita, siapa lagi? Hahaha” kata Udin dengan mengikuti logat iklan sabun di televisi.
“Iya sama Din, mulai sekarang kita berjanji yuk! Kalau kita gak bakal lagi membuang sampah sembarangan di manapun kita berada, seperti yang di ikrarkan tadi pagi saat upacara bendera.” Jono dan Udin membuat perjanjian pada diri sendiri.
Keesokan harinya, Udin dan Jono akan mengumpulkan hasil tugas PLH dan semua murid terkejut melihat sahabat sejoli yang pemalas terhadap masalah persampahan tiba-tiba menjadi murid yang kreatif yang menghasilkan karya yang begitu banyak. Diantaranya, layang-layang yang terbuat dari tutup kemasan minuman akua gelas, tas yang terbuat dari limbah kardus, hiasan bunga yang terbuat dari sedotan, tempat pensil yang terbuat dari stik es krim, dan masih banyak lagi. Tidak lama kemudian, bu Linda masuk dan langsung melihat kearah meja sahabat sejoli itu.
“Wah, Jono, Udin! Kalian banyak sekali menghasilkan karya sampah ini. Ibu salut dengan kalian, akhirnya kalian bisa menjadi orang yang berguna,” ujar bu Linda yang memuji sahabat sejoli itu.
“Iya bu, kami baru sadar betapa pentingnya kebersihan lingkungan bagi kehidupan dan kami berjanji tidak akan membuang sampah ke kolong meja lagi” ujar Jono dan Udin dengan perasaan malu.
 “Oiya bu, satu lagi! Aku ingin memberi usul, bagaimana kalau kita adakan duta sanitasi dan kalau perlu, adakan saja ekskul kebersihan, ayo teman-teman kita tunjukkan betapa kita semua peduli lingkungan!” teriak Jono dengan penuh semangat.
“Setujuu!!” sahut anak-anak dengan perasaan bangga.
“Jono, ibu salut sama kamu! Kamu telah menggerakkan jiwa teman-temanmu. Ibu akan jadikan kamu sebagai duta sanitasi sekolah kita” bu Linda memberikan pangkat kepada Jono.
“Terima kasih bu..” ujar Jono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar