
Hei para remaja yang masih
mencari jati diri hahaha. Gimana sih perasaan kalian pas tahu sekolah yang
kalian idam-idamkan sedari dulu itu jauh bertolak belakang dengan yang diidamkan?
Pastinya kecewa banget dong. Kita berharap banget sekolah yang nyaman, aman, tentram,
dan damai. Itu sekolah atau kuburan ya?
Remaja seusia kita, selalu
ingin yang enak. Begitupun dengan orang tua dari masing-masing murid yang
selalui ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya, salah satunya dengan tidak
sembarang memilih sekolah. Fasilitas yang lengkap, lingkungan yang bersih
merupakan pandangan utama ketika memilih sekolah tentunya. Cerita dikit nih
tentang sekolahku ya bisa dibilang curcol lah yaa hahaha. Fasilitas di
sekolahku bisa dibilang fifty:fifty. Setengah komplit setengah engga #nahloh
pusing. Lab komputer, fisika,biologi ada. Tapiii sayang bangeudzt *alay,
pemeliharaannya kurang sekali dan peralatannyapun jarang sekali ditemukan bisa
dibilang kayak abis dijajah barangnya berceceran kemana-mana.
Yang paling anehnya, itu lab
bukan dipake buat praktik tapi malah dipake buat memfoto siswa dengan ukuran3x4
lah, rapat MGMP, dipake untuk berbagai
penyeleksian. Entahlah, mungkin dari tahun ke tahun sudah beralih fungsi -_-.
Kalo lab komputer sih no comment udah top deh ya walaupun tempat mengoprasikan
komputernya dengan “ngampar lesehan” alias gak pake kursi :D. sekolahku di cap
sebagai sekolah favorit, letaknya yang sangat strategis, terletak di
tengah-tengah kota, tapi keadaan didalamnya tidak mendukung dengan kata favorit
tadi. Kenapa? Because lingkungan sekolahku itu cetar membahana badai halilintar
bro :D nah, gara-gara halilintar itu yang buat sekolahku daun berterbangan,
sampah terlihat di sudut-sudut halaman, belum lagi pot tanaman hasil praktik
PLH yang pada hilang entah kemana. Sudah tahu dong kondisi lingkungan sekolahku
seperti apa? :D pantas gak sih disebut favorit?
Aku kadang sering sekali
mengeluh dengan keadaan sekolahku. Ya walau bagaimanapun itu kan sekolahku.
Sekolah merupakan tempat kedua setelah rumah. Apabila rumahku kotor, tentu aku
merasa risih dengan keadaan itu. Belum lagi pintu kelas banyak yang rusak
akibat murid-murid yang semena-mena menggunakan kelasnya seperti lapangan.
Adalah aturan bermain bola di dalam kelas-_- gak usah tanggung-tanggung, main
tenis aja sekalian di kelas bukan 2 paling 5 kaca yang pecah. Andaikan
sekolahku ada kotak aspirasi, supaya siswa dapat berkomentar dengan apa yang
dilihatnya. Boro-boro, mading (papan informasi) aja rusak. Mirisnya lagi
wastafel yang baru dibuat tinggal menunggu airnya berjalan lancar, sudah rusak
duluan. Aku sendiri pun belum pernah mencuci tangan di wastafel depan kelasku,
keburu diambil oleh yang maha kuasa wastafelnya L.
Kadang, kalo ngomongin soal lingkungan gak bakal selesai-selesai. Mungkin
memang terlalu banyak yang musti dibedah dan diselesaikan :D
Peran guru pun sangat
dibutuhkan dalam memberi peringatan bagi siswa yang merusak fasilitas sekolah.
Memberi contoh dan penyuluhan tentang merawat lungkungan dengan baik dan benar.
Kalo soal lingkungan, ini lebih ditugaskan kepada guru PLH. Tapi bagaimana jika
gurunya sendiri tidak memberikan materi secara rinci dan mempraktikkannya di
lapangan agar siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Aku
menginginkan sekali dapat belajar memanfaatkan sampah di sekolahku. Ya misalnya
saja membuat pupuk organik, membuat berbagai kerajinan dari sampah, dan
sebagainya. Tapi apa yang kudapat dari guruku?
Hanyalah materi secara
lisan lalu sesudah itu langsung deh dikasih ulangan. Apabangetz kan yaa?. Kata
guru ipaku "guru gak pernah salah". lalu, jika guru PLH merokok di
sekitar sekolah padahal katanya asap rokok itu polusi, siapa yang musti
disalahkan? Tukang rokok? Jangan sampai yang harus disalahkan rokoknya. Untung
saja yang bilang begitu guru favoritku, coba guru PLH nya sendiri? Rasanya
pengen ngacak-ngacak septic tank saking kesalnya. Menyebalkannya lagi ketika
guru PLH menugasi setiap kelas untuk melukis tong sampah semenarik mungkin, dan
yang paling menarik, akan mendapatkan hadiah. Bagaimana tidak sebal aku dan teman-temanku
sudah seharian bahkan sampai malam mengerjakan tong sampah, sampai aku pun
sempat dimarahi oleh ibuku, tapi kami sangat mengagumi hasil kami. Tapi apa
hasilnya? Guru itu tidak sama sekali tidak mengumumkan kelas mana yang paling
bagus. Lama kemudian, ada temanku yang bilang bahwa yang memenangi melukis tong
sampah adalah kelas kami. Yasudahlah lupakan. Tong sampahnyapun sudah hilang
entah kemana. Tugas yang paling menyebalkan yang pernah ada.
Guru itu unik, memunculkan
karakter yang berbeda-beda tapi mempunyai tujuan yang sama, yaitu membentuk
generasi bangsa yang berkualitas. Sering kita mencirikan mana yang merupakan
guru favorit, guru killer or galak, guru cantik, guru baik, de.elel. Tentunya
kita ingin saat belajar, kita enjoy dengan guru kita. Tidak merasa tertekan dan
materi yang diajarkan sampai dengan selamat ke otak. Realitanya, guru killer paling/sangat/banget/more
ditakuti oleh siswa. Mungkin memang jarang ketawa? Terlalu stres memikirkan
beras di rumah masih ada atau tidak? Jarang bergaul? kata ibuku jika kita tidak
suka dengan salah satu guru, jangan membuat kita terpuruk olehnya, justru kita
harus PDKT dengannya. Tapi menurutku sebagai seorang guru juga ia harus
mengevaluasi dirinya. Memikirkan bagaimana keberadaannya disukai oleh murid.
Jangan merasa selalu benar dan benar. Guru juga manusia. Guru yang kreatif dan
komunikatif sangat dibutuhkan bagi penunjang semangat belajar siswa. Yang
paling menyebalkan adalah ketika guru sudah berkata ada PR besok dikumpulkan.
Mending beberapa soal. Lah ini? Se-LKS braay! Amazing banget kaan! Pelatih
kesabaran ini adalah guru agama dan guru TIK di sekolahku. Membuat
murid-muridnya sabar menanti hari esok untuk menyontek kepada yang lain. Kadang,
orang yang pintar di kelasku saja enggan mengerjakannya. Apa iya sekolahku
sering sekali memberikan tugas dan PR? Sampai-sampai murid baru sejak kelas 8
masuk, kini kelas 9 ia keluar? Mungkin mual dengan soal. Hahaha.
Ya, aku sendiri saja tidak
tahu dengan temanku ini. Tapi, apa yang diceritakan guruku ketika upacara
tentang ada siswa yang keluar gara-gara sering diberikan PR dan tugas, seperti
mengarahkan kepada temanku yang memang saat itu jarang sekali masuk tanpa
keterangan. Memang sih kebanyakan PR dan tugas bisa membuat kita stres dan
tertekan. Belum lagi sang guru ingin tugas itu secepatnya selesai. Belum lagi
ada ulangan harian, belum lagi bagi kelas 9 yang lagi runyam-runyamnya
memikirkan UN. Kalo flashback tentang tugas, enaknya kelas 8. Banyak sekali
tawaran syuting alias sering diperintahkan drama :D pelajaran pendidikan
kewarganegaraan pun ikut-ikutan nyuruh menampilkan drama. Ini lagi PAI nyuruh
drama juga. Gurunya ituloh yang gak bisa diajak kompromi. Masak iya aku dan
teman-teman disuruh untuk menghafal juz a'mma gara-gara kelasku membaca doa nya
ngawur. Yaa namanya juga kan engga tahu harus baca doa apalagi. Ada acara belah
pojok kanan baca al ikhlas, yang belakang an-nas, pojok kiri al-bayyinah,
tengah al-falaq. Semuanya pun saling tatap dan tertawa. Lalu guru PAI ku
langsung keluar sedang memperagakan ekspresi pundung.
Tugas yang gak bakal
dilupain. Yaiyalah gimana gak lupa, semuanya tidak melaksanakan dengan kompak
:D yaa walaupun begitu kami dan guru PAI kami masih berhubungan baik walaupun
tugas kami belum dilaksanakan :D hubungan antara siswa dengan guru memang harus
terus berjalan. Karena lewat komunikasi, tali silaturahim kita akan semakin
kuat dan tidak ada kata gengsi untuk memulai pembicaraan kepada guru ataupun
guru kepada murid. Jangan menjadi guru bila ia tidak bisa berkomunikasi. Tujuan
guru adalah menyampaikan materi dengan lisan dan gerakan sehingga tujuan
tersebut sampai kepada murid. Ada juga loh guru yang gak nyambung ketika sedang
berkomunikasi dengan muridnya. Ya seperti pengalamanku ini, wali kelasku
merupakan guru olah raga. Ketika ia masuk ke kelasku, ia langsung menanyakan
kabar anak didiknya. Beberapa menit, pembicaraannya menjadi tidak nyambung.
Guruku malah mengetest berbagai macam vitamin dan contohnya, kepada teman-teman
sekelasku -___-"
Ibu dari temanku pernah
menjadi korban tidak nyambung wali kelasku ketika sedang mengambil raport, orang
tua dari temanku tidak mengerti apa yang diucapkan oleh wali kelas. Temanku
cerita, bahwa ibunya saat itu menanyakan tentang ranking, tapi wali kelasku
malah menjawab ke arah yang lain :D
Tapi itulah kenyataannya.
Dibalik sekolah favorit di kotaku, banyak cerita menarik dan mungkin tidak akan
ku temukan di sekolah lain. Banyak orang yang mendambakan sekolah yang bagus
dan perfect. Fasilitas lengkap, guru yang nyaman, dan sebagainya. Sekolah pun
sama dengan manusia, terdapat kekurangan dan kelebihan. Sekolah tidak akan
terlihat lebih jika muridnya tidak lebih/berperstasi. Semoga pendidikan di
Indonesia semakin berkualitas dan mengeluarkan generasi bangsa yang
berkualitas. Tidak perlu berlogo RSBI untuk fasilitas serba ada dengan biaya
yang mahal. Karena fasilitas yang lengkap merupakan hak bagi anak bangsa,
terutama bagi anak kurang beruntung yang terpinggirkan oleh perkembangan zaman
yang selalu dilandasi oleh uang. Berubahlah untuk pendidikan Indonesia yang
lebih baik. Sekarang? Atau Tidak sama sekali!
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusthaannkss :)
Hapus