Kamis, 16 Mei 2013

gelang itu...

 Seperti biasa, pembukaan tahun ajaran baru di sekolahku selalu dilakukan dengan memamer-mamerkan tas baru yang teman-temanku tunjukkan. Terutama  Alvina yang dikenal sebagai cewe mode, ia tidak akan mungkin ketinggalan hal-hal baru sekecil apapun barang itu, sepenting apapun itu. Misalnya saja tas. Sebut saja tas merk “export” yang ternama itu. Ia pamerkan pada teman-teman gengnya, termasuk aku teman barisan duduknya. Anak-anak buahnya pun terlihat terkesimak melihat tas nya. Apa yang mesti dibanggakan dari tas itu? Oke, kualitasnya memang bagus, modelnya seperti biasa saja. Ya menurutku, model seperti itu bisa ditemukan di pasar haraganya pun tidak semahal tas merk ternama itu. Bahkan, apabila kita bisa merawatnya, mungkin tas yang dibeli di pasar jauh lebih awet dibanding tas export, dengan begitu kita tidak perlu lagi membebani orang tua dengan hal tas saja.
Setelah mengobrol tentang tas dengan teman-teman gengnya, Alvina mulai melirik kearahku dan melihat keseluruhan punyaku, dari atas kepala sampai ujung kaki, eits… salah. Mana mungkin dia mendelikku dengan keadaan aku sedang duduk sampai ke bawah meja J. Saat itu aku mulai risih dengan tatapannya. Sebenarnya apa sih yang dia inginkan dariku? Yaa kuakui aku ini cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung J (semua itu fitnah).
“Nis, kamu tidak beli tas baru?” Tanya Alvina dengan suara sedikit mengejek.
“(kepo banget sih ini orang). Tas ini juga masih bagus, kenapa harus beli yang baru?” Jawabku dengan sedikit kesal dan mencoba sabar.
“Coba lihat tempat pensil kamu, kata Liana tempat pensilmu lucu sekali” Ujar Alvina sambil sambil mencari-cari.
Aku tahu dia hanya alasan saja kata Liana, kata Liana. Halaah!! Mungkin, kata “LUCU” itu untukku yang terlontar dari mulut dia secara tidak langsung hahaha. Bilang saja kalau ingin mengejekku dan membanding-bandingkan dengan barang-barangnya yang mewah.
                “Ini kan yang lama? Ko tidak ada yang baru?” ujar Alvina menyindir.
(Lo mau yang baru? Lo ke rumah gue, liatin baju-baju gue dari kreditan kemarin) kesal tingkat dewa menghadapi Vina saat itu. Muka memerah, hidung mengeluarkan asap, kepala bertanduk, siap untuk menyeruduk tapi nyatanya tidak jadi karena aku tidak akan berani mengatakan yang sebenarnya ada dipikiranku. Dia tuh bagaikan tim sar tau gak sih? Menggeledah tas orang, khawatir ada bom kali yaa.
                “Udah deh, kalo gak mau beliin gak usah nanya-nanya mulu!” Jawabku kesal.
Saat aku dan Alvina, yaa…bisa dibilang bertengkar (beda sekali dengan suasana mengobrol) datang sahabatku Prita yang memakai tas barunya tapi tidak sedengki Alvina.
                “Kamu kenapa tidak minta pada orang tuamu? Apa jangan-jangan orang tuamu tidak punya uang yak?” Ujar Alvina sok tahu.
                “Memangnya salah ya, tidak membeli tas baru saat tahun ajaran baru?” Tanya prita membela.
Teman-teman dekat Alvina seperti Liana dan Rena yang tadinya sedang mengobrol ikut nimbrung dengan obrolan panas antara aku, Prita, dan Alvina.
                “Nanti orang bosan melihat tampilanmu seperti itu lagi-itu lagi, seperti tak ada yang menarik darimu saja Nisa!” Ujar Liana nimbrung membela Alvina.
                “Hahahahaha” Alvina dan anggota gengnya menertawakan perkataan Liana barusan.
                “Kalian semua aneh ya! Hal tas saja mesti dibesar-besarkan seperti anak kecil saja. Ingat! Kalian tuh sudah kelas dua SMP” Prita membela.
                “Sudahlah Prit, capek ngomong sama anak yang masih berjiwa SD kayak mereka!” Ujarku.
Prita memang sahabatku yang paling baik. Meskipun, aku mulai bersahabat dengannya sejak 5 SD, tapi kita seperti saudara. Aku dan Prita selalu saling curhat, karena prinsip kami adalah keterbukaan. Aku juga pernah mengatakan hal yang tidak aku suka dari Prita, begitupun sebaliknya.
                Tiba-tiba Bu Rina datang ke kelas untuk mengumumkan hal penting.
                “Assalamu’alaikum…” Ibu guru menyapa dengan halus
                “Wa’alaikum Salam…” Anak-anak serentak menjawab
                “Hari ini tidak ada kegiatan KBM, karena sekarang adalah acara salam-salaman untuk menjalin silaturahim antara guru dan murid. Sekarang kalian keluar dari kelas dan berbaris dengan rapi mengikuti antrian yang sudah ada” ujar Bu Rina
                “Horeeeee….!!!” Semua murid di kelasku serentak berteriak dan kegirangan.
Semua murid dari kelas satu sampai kelas Sembilan datang memenuhi lapangan untuk bersalam-salaman dengan para guru maupun staf TU. Setelah kelasku selesai bersalam-salaman, kami diizinkan pulang dan harus cepat pulang, karena dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Aku dan Prita seperti biasa, pulang bersama berjalan kaki dengan alas kaki dibuka menyusuri sawah menuju rumah kami. Akhirnya, aku duluan yang sampai, sedangkan Prita harus berjalan 10 meter lagi menuju rumahnya.
                “Pritaa, jangan lupa! Kalau nanti aku datang ke rumahmu, kamu sudah harus siap ya!”
                “Oke siap bos!” Jawab Prita.
Setelah ganti baju, makan, dan mencuci piring, aku langsung cuus ke rumah Prita untuk bermain di sawah.
                “Priiitaa…Priitaa”
                “Masuk dulu ca, Pritanya lagi makan niih” Ujar Bu Sri dengan logat jawa.
Keluarga Prita memang selalu memanggilku dengan sebutan Ica, katanya sih agar lebih mudah diingat. Orang tua aku pun sangat dekat dan akrab dengan keluarga Prita. Apalagi, jika ibuku atau ibunya Prita saling berkunjung, suasana berubah menjadi hangat layaknya sebuah keluarga.
                “Nih ca, sukun goreng. Ibu udah bikin banyak, eeh tahunya tidak ada yang makan” Bu Sri menawarkan.
                “Asssiikk emang enak yaa kalau datang ke rumah Prita, pasti dibuatkan sukun goreng. Hehe” Jawabku polos.
                “Wahh ma… lama-lama kita kayak ngasih sesajen nih ke tamu yang satu ini” Ujar Prita dengan bercandanya
                “Ora opo-opo toh, namanya juga tamu Prit. Satunya Rp 500 ya ca!” Ujar Bu Sri ikut bercanda.
                “Yaahh ibu malah ikut-ikutan dah. Yaudah nih gak jadi sukun gorengnya (menyodorkan piring kosong dengan sedikit minyak menempel)” ujarku dengan tatapan tak terima.
Prita dan Bu Sri saling menatap piring yang ku sodorkan.
                “Hahahahahaha kamu ini! Mana sukun yang tidak jadi kamu makan? Kamu ini ada-ada saja ca…ca…” Prita dan Bu Sri tertawa dengan lepasnya.
                “Hahahaha ketipu niyee…”
Setelah kami bercanda ria di rumah Prita sambil menunggunya makan, aku dan Prita bermain di sawah.
                “Pritaa itu liat kepiting!!” Seruku dengan penuh semangat
                “Ya ampuun, kamu sudah berapa tahun tinggal di sini ca? itu kan keuyeup. Capee deeh” Jawab Prita dengan muka minta ampun.
                “Ya maap… habis, bentuknya seperti kepiting begitu sih”
                “Iya sih emang, hahaha. Tapi kata orang sunda yang kayak begituan sih namanya keuyeup.” Jawab Prita ragu
                “Hah? Orang Sunda? Siapa? Keluargamu kan orang Jawa?” Kepalaku penuh tanda tanya
                “Hmm… kasih tau gak yaa??”
                “Entahlah gimana kamu aja -_-” Jawabku dengan tampang bete.
                “Hahahaha”
Setelah aku dan Prita melihat binatang yaa aku juga tak tahu apa namanya, kami pun pergi ke saung. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar suara seperti orang jatuh.
 Gubraak. Dan ketika aku tengok ke belakang, ternyata Prita memang sedang dalam keadaan duduk, aku pun spontan menertawakan Prita.
                “Hahahahaahaha ya ampun Prita, kenapa bisa jatuh begindang (begini)?”
                “Hahaha aku juga tak tahu ca, udah ah jangan ngetawain! Sakit tau bantuin kek.” Pinta Prita dengan sedikit tersenyum atas ulahnya.
                “Iya iya deh aku bantuin, hahaha” Ujarku sambil tertawa kecil
Aku pun melanjutkan perjalanan dengan Prita berada didepanku sambil berjaga-jaga takut akan terulang kedua kalinya. Membuntuti Prita sambil tertawa kecil masih mengingat kejadian lucu Prita.
                Sesampainya di saung, aku dan Prita pun saling berdiam diri, melepas rasa lelah. Kami larut dalam keheningan. Sekali-kali aku lihat Prita rasanya ingin tertawa terbahak-bahak dan selalu tertawa, tapi kenyataannya aku dan dia saling membungkam mulut. Tak sengaja, aku melihat Prita lagi dan Prita juga sedang melihatku, aku ingin sekali tertawa di depan mukanya yang melas, lugu, kocak, tapi sayangnya, dia tidak seperti apa yang kurasakan. Tatapannya tidak seperti biasanya. Penuh arti dan seperti ada yang dibicarakan. Anehnya, kenapa aku malah ingin melepaskan tawaku yang sengaja aku tahan demi menghargai sahabatku? Kenapa aku tidak mencoba dikit saja membalas tatapan serius Prita?
                “Ca…”
                “A…apa Prit??” Jawabku sambil tertawa.
                “Ca, makasih yah udah mau jadi sahabat aku… maaf banget kalau aku banyak salah sama kamu” Ujar Prita
Apa maksudnya ini? Baru kali ini aku mendengar permintaan maaf yang begitu dalam dari seorang Prita yang cuek, ceria. Suasana menjadi tegang ketika Prita mengungkapkan permintaan maafnya. Aku pun mulai memerhatikan Prita.
                “Apa sih Prit kamu tiba-tiba minta maaf gini? Gak perlu ada yang mau dimaafin, kesalahanmu sudah tertutupi dengan kebaikanmu Prit”
                “Ca, besok aku akan pindah sekolah sekaligus aku sudah tidak di sini lagi” Ujar Prita sambil mengeluarkan air mata
Pindah? Baru saja kemarin aku ditinggalkan olehnya berlibur ke Jawa saja rasanya hancur sekali hari-hariku tanpa kehadirannya. Dan sekarang, ia akan pindah untuk selama-lamanya?
                “Kenapa kamu pindah Prit?? (dan ninggalin aku gitu aja?)” Suara hatiku ikut berbicara menentang kepergian Prita.
                “Aku juga sebenarnya tidak ingin meninggalkan kenanganku di sini, kenangan  bersama teman-teman, keluargamu, terutama kamu sahabatku yang  paling aku sayang. Tapi ini adalah perintah dari ayahku. Ia akan banting tulang di Jawa. Mau tidak mau, keluargaku akan tinggal di Jawa selama-lamanya.”
                “Yasudah, kamu baik-baik ya di sana. Jangan lupa cuci piring, cuci baju, nyetrika” Aku mencoba menahan air mata yang keluar, karena aku tahu setetes air mata yang keluar dari mataku, itu akan membuat Prita semakin terbebani dan membuat hatinya kacau.
                “Eeehhh… emangnya aku pergi ke Jawa untuk menjadi pembantu apa?” Jawab Prita sambil tersenyum
                Sesudah melepas haru sore itu, kami pun pulang ke rumah dengan keadaan bau yang tidak enak tercium dari badan kami ketika sepulangnya di rumah. Sesudah mandi karena bau badanku yang mematikan, aku pergi ke kamar dan mencari-cari barang yang akan aku beri untuk Prita sebagai kenang-kenangan.
                “Apa yaa yang akan kuberi untuk Prita? Masalahnya, aku ini seorang wanita yang jarang sekali dibelikan perhiasan atau semacam boneka atau barang-barang berharga lainnya. Sekalipun dibelikan, barang tersebut tidak akan awet.”
Setelah ku pikir-pikir apa yang akan aku ber pada Prita, akhirnya aku memilih buku bacaan do’a-do’a bergambar merupakan penerbit dari mizan. Aku berharap buku itu selalu dibaca oleh Prita J.
                Malam telah datang tapi Prita belum juga datang. Aku tunggu di halaman rumah, Prita belum juga datang.
“Mungkin dengan tidur sebentar di sofa, aku akan segar kembali menunggu Prita”. Gumamku malam itu.
                Saat aku membalikkan badan, terdengar ada seseorang yang memanggilku dekat sekali, yak dia Prita. Memakai baju tidur, dan sandal capit membawakanku bingkisan, mungkin untukku. Ku pandangi dia sebentar. Tuhan, tegarkan hati ini untuk menerima kenyataan bahwa dia akan pergi. Lalu, Prita memandangiku aneh.
                “Ca, woy kok melamun? Ngantuk ya? Maaf ya aku telat tidak sesuai janjiku. Tadi aku sakit perut”
                “Hah, apa? Oh ya tidak apa-apa Prit…”
                “Oh ya ca, nih untukmu. Simpan yaa jangan sampai rusak lho… aku berbicara seperti itu karena aku tahu kamu itu orangnya jorok. Hihi” Ujar Prita sambil mencubit hidungku yang pesek menjadi semakin pesek.
“Oh ya satu lagi, ini gelang milikku. Tolong kamu jaga baik-baik ya, karena aku sudah tanamkan pada gelang ini jika gelang ini putus atau hilang persahabatan kita akan berujung seperti gelang itu. Kamu mengerti kan…” Kata Prita menambahkan
“Prit, ini dariku. Walaupun tak seberapa harganya dengan barang punyamu, aku harap ini bisa bermanfaat untukmu” Ujarku seraya memberikan buku
“Wah bagus sekali buku ini. Pasti Nis, pasti akan selalu aku baca. Terima kasih ya ca, buku ini mengingatkanku agar terus berdo’a”
                “Prit, hati-hati ya di sana, akan aku do’akan kamu selalu sehat, makin pintar, dan semoga kamu mendapatkan sahabat yang lebih baik dari aku” Pintaku pada Prita
                “Kamu yang terbaik dan selalu menjadi yang terbaik dalam hidupku ca”
Aku dan Prita mengeluarkan air mata yang mempunyai arti begitu dalam. Kami pun saling berpelukan erat. Dan pelukan itu adalah pelukan terakhir kebersamaanku dan Prita.
Dear diary…
Sudah bertahun-tahun aku tidak berkomunikasi dengan Prita. Dimulai sejak hilangnya gelang itu, hilanglah hubungan kontak aku dengannya. Aku tidak mengerti mengapa gelang itu begitu sakral bagi ku. Hilangnya gelang, hilang juga komunikasi diantara kami. Awalnya memang aku menyepelekan pesan Prita. Sungguh, sangat kusesali sekarang. Arghhtt!! Mengapa juga gelang itu harus hilang terbawa arus sungai saat aku berlibur ke kampung halaman ku! Maafkan aku Prit, ini semua salahku, aku yang membuat kita jauh. Aku hanya bisa berharap semoga tuhan mendekatkan aku dengan mu lagi seperti sedia kala setidaknya hanya sebatas lewat telepon.
                “Ca… makan malam sudah siaapp..!!” Mama meneraki.
                “Iyaa maa…” Jawabku setelah lama aku pandangi foto Prita dan menyusut air mataku yang tidak bisa kutahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar