Sabtu, 03 November 2012

Sepasang Mata Bersinar


Khawatir dengan kondisi kesehatan ibu itulah yang selalu ada dipikiranku. Aku takut bila ibu sampai jatuh sakit, karena ibu selalu menggunakan waktu istirahatnya dengan memasak gorengan. Ibu memang berprofesi sebagai penjual gorengan keliling. Pekerjaan itu ditekuni oleh ibu sejak aku masih kecil. Mungkin, lebih tepatnya sejak bapakku  pergi entah ke mana dan  tak kembali. Tak jauh beda dengan lagu “Bang Toyib” yang sudah 3kali puasa dan 3kali lebaran tak kunjung pulang. Malah, bapakku sudah melebihi waktu Bang Toyib. Bayangkan saja! Sampai umurku 14 tahun pun, bapak tidak memberi kabar sama sekali. Memberi kabar pada istrinya saja tidak! Apalagi aku, sebagai Anak Baru Gede (ABG) ini, tapi aku salut dengan ibu yang tidak pernah mengeluh dengan buta sebelah yang dialaminya saat ini dan tidak bosan dengan pekerjaannya sebagai pedagang gorengan. Sampai-sampai dapur menjadi surga penghasilan kami sehari-hari. di sisi lain, aku juga merasa malu dengan kekurangan ibu yang membuatku malu dihadapan teman-temanku terutama geng Tirex B-genk itu, mereka selalu saja mengejekku dengan kondisi keluargaku saat ini. Aku hanya ingin melampiaskan perasaanku. Mungkin, hanya lewat goresan tangan ini aku bisa ceritakan semua yang ku alami tanpa seorang pun tahu bahwa hidupku tak seberuntung teman-temanku.
“Hoaamm… rasa-rasanya, baru tadi aku menulis, tapi mataku sudah tak kuat lagi untuk menatap. Thanks diary, berkatmu aku tidak merasa kesepian lagi.. selamat tidur..” ucap Diandra kepada diary nya.
“Trang…trungg…trangg” suara wajan yang terus menerus berbunyi.
“Hooaam masih mengantuk begini aku dibangunkan oleh suara wajan ibu. Jam berapa ini? Hah? Sudah pukul setengah 7?” Diandra terbelalak ketika melihat jarum jam menunjukkan pukul 06.30 pagi.
            Setelah tahu dirinya akan telat berangkat sekolah, ia langsung ke kamar mandi dan tidak sampai 20 menit, Diandra telah selesai mandi.
“Hmm segarnya badanku ini. Dengan sedikit semprotan minyak wangi, bajuku akan ikut wangi” ujar Diandra saat berdandan depan cermin dengan menggunakan seragam yang begitu rapi dan rambut ikalnya yang jatuh dengan sempurna, ia tampak cantik sekali.
“Akan berjualan ke mana ibu hari ini? Kok banyak sekali?” tanya Diandra dengan suara yang tiba-tiba muncul disamping ibunya.
“Eh, kamu Di, mengagetkan ibu saja. Ini lho ibu mau berjualan di sebuah sekolah karena ibu sudah meminta izin kepada kepala sekolah yang ibu sendiri lupa dengan nama sekolahnya” jawab bu Rosdiah, ibunya Diandra dengan polos.
“Moga saja… bukan sekolahku yang didatangi ibu” gumam Diandra dalam hati dengan perasaan tidak senang.
Pucuk dicinta ulang pun tiba. Tepat sewaktu Diandra keluar rumah ternyata di depan sudah ada Aini dan dika, sahabatnya sejak kecil yang sedari tadi menunggu Diandra siap pergi sekolah.
“Hmm… Aini, jika kamu jadi aku, perasaan apa yang kamu rasakan ketika ibumu berjualan di sekolah kita? Senang kah? Atau malah malu?” tanya Diandra dengan suara pelan.
“Ya tentu aku merasa senang lah… soalnya, aku bisa makin dekat dengan ibu. Walaupun Tirex B-genk itu menghinaku, aku akan abaikan, karena aku masih punya kalian (Diandra dan Dika) yang setia berada di sampingku yang tak pandang keadaanku seperti apa saat ini, dan ibu yang selalu memberikan kekuatan hingga membuatku tegar. Itu sikapku jika jadi kamu Di hehehe. Emang ada apa Di? Ibumu mau berjualan di sekolah?” tanya Aini dengan heran.
“Tak tau lah Ai, mungkin saja iya. Soalnya, tadi aku lihat gorengan ibu banyak sekali tak seperti biasanya, tapi ibuku lupa nama sekolah yang akan dijadikan tempat jualannya. Anehnya, firasatku mengatakan ibuku memang akan berjualan di sekolah yang sama.” jawab Diandra dengan perasaan takut.
“Bagus dong! Kamu bisa pulang bareng dengannya, mengobrol dengannya, wah kayaknya seru…” balas Aini membayangkan dirinya berada di posisi Diandra.
“Tapi, aku malu kalau ibuku benar-benar akan berjualan di sekolah Ai...mau ditaruh di mana muka ku! Yang ada, aku makin terlihat rendah saja di depan Tirex B-genk itu. Mending aku tidak usah sekolah Ai!” jelas Diandra dengan muka kesal.
Ishh.. jangan berkata begitu Di! Gitu-gitu juga kan ibumu! Orang yang telah melahirkanmu dengan susah payah! Masa, hanya karena geng itu kamu jadi membangkang pada ibumu!” jawab Aini dengan nada tinggi.
Aini memang benar, tetapi perkataannya tidak akan meluluhkan hati dan perasaan Diandra yang sudah terlanjur malu dengan keadaan fisik ibunya. Diandra memang sayang pada ibunya yang telah membesarkannya dan menyekolahkannya sampai ia duduk di kelas II SMP sekarang ini. Tapi dibalik itu semua, sebenarnya Diandra juga malu dengan kondisi ibunya yang tak seberuntung teman-temannya. Rasa malu itu ia sembunyikan dari ibunya. Sampai sekarang ia belum pernah mengatakan hal-hal yang menyakitkan, karena takut ibunya sakit hati, perasaan itu ia pendam sendiri melalui buku diary nya. Meskipun ekonomi keluarganya berkecukupan, Diandra merasa masih punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh siapapun yaitu pintar dan cantik. Hal itu membuatnya tinggi hati dan rasa rendah di depan Tirex B-genk itu merasa terkurangi.
“Aaaaww… ” teriak Diandra saat kakinya tersandung oleh kaki Tivanna, ketua Tirex B-genk yang sengaja membuat Diandra jatuh.
“Aduh.. sakit ya? Cup..cup..cup kasian rakyat jelata ini. Sini aku bantu!” Tivanna mengulurkan tangannya kearah Diandra dan mencabutnya kembali saat Diandra hampir bangun.
Ups, sorry kayaknya tanganku licin” ujar Tivanna dengan nada sombong.
“Alah, bilang saja kamu tak mau menolong! Ayo Di, sini aku bantu!” bela Aini.
“Hahaha orang seperti kalian tuh tidak pantas ditolong oleh kami. Tuh minta bantuan sana sama pemerintah! Minta bantuan dana! Iya gak teman-teman?”  ujar Tivanna dengan nada mengejek
“Hahaha betul bangeett!!” jawab Sintia dan Danovan, anggota Tirex B-genk itu.
Mereka tertawa terbahak-bahak bersama dan anak-anak melihatnya dengan perasaan jijik oleh tingkah mereka yang keterlaluan. Kalau bukan berkat papa Tivanna yang menjadi kepala sekolah di SMPN 56 Jakarta itu, ia tidak akan bertingkah semena-mena, dan sekarang dirinya merasa berhak melakukan apa saja sesuai keinginannya, sehingga anak-anak pun tidak bisa memperingatkan geng itu, karena takut Tivanna akan mengadu kepada papanya.
Kejadian tadi telah berlalu sampai bu Ramya, guru mata pelajaran Matematika yang disenangi oleh Diandra namun dibenci oleh oleh anak-anak terutama Tivanna, datang dengan penampilan serba ungu. Jilbab, baju, sepatu, sampai tas pun disihir oleh bu Ramya menjadi ungu.
“Selamat pagi anak-anak…!” sapa bu Ramya dengan manis.
“Selamat pagi juga buu…!” jawab anak-anak dengan lesu tapi tidak dengan Diandra yang dengan semangatnya menjawab salam dari bu Ramya.
Saat proses belajar mengajar berlangsung, sekilas Diandra membalikkan arah pandangannya ke sudut jendela. Ternyata sudah ada sosok wanita separuh baya sedang melihat keadaan kelasnya. Merasa kenal dengan wanita itu, Diandra langsung membalikkan badan dan nafasnya tersengal-sengal saat tahu wanita itu adalah ibunya sendiri. Diandra bingung harus berbuat apa terhadap ibunya. Apakah ia harus menghampiri dan menemani ibunya berjualan di kantin nanti atau harus berpura-pura tidak mengenali ibunya sendiri karena takut akan diejek oleh teman-temanya.! Hanya itu yang Diandra pikirkan saat ini.
“Sedang apa ibu di sini?! Buatku risih saja!” gumam Diandra dalam hati.
Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa saling bertubrukan dan mengantri menunggu gilliran makanan yang dipesannya. Hanya Diandra, Aini, dan Dika sahabatnya sejak kecil yang berada di kelas.
“Di, ke ka-kantin yuk!” ajak Dika dengan bicaranya yang gagap.
“Aku masih kenyang Dik. Kamu sama Aini aja ya yang ke kantin.” saran Diandra.
“Oh ya-yaudah a-aku sama Aini ke ka-kantin dulu ya Di!” ujar Dika pamit.
Keadaan kantin yang begitu ramai, Aini dan Dika sempat bingung untuk jajan apa. mereka menoleh ke kanan dan ke kiri tak ada yang menggugah selera, sampai di ujung pencariannya, Aini melihat sosok seorang ibu yang sangat ia kenal. Rupanya, ia melihat bu Rosdiah, ibu dari Diandra yang sedang berjualan di kantin sekolah. Segera Aini dan Dika menghampiri bu Rosdiah.
Assalamu’alaikum… ibu sekarang berjualan di sini?” tanya Aini dengan sopan
Wa’alaikum salam…iya ibu sekarang berjualan di sini.. Aini? Kamu sekolah di sini?” jawab bu Rosdiah setelah dirinya selesai menghitung hasil dagangannya dan kaget melihat sahabat anaknya bisa bertemu dengannya ditempat yang sama.
“Iya bu Aini dan Dika sekolah di sini, Diandra juga.” ucap Aini dengan halus.
“Benarkah itu Ai? Kalau begitu tolong antarkan ibu ke kelasnya ya Ai!” pinta bu Rosdiah dengan nada semangat.
Sebenarnya Aini ingin sekali mengantarkan bu Rosdiah ke kelas, namun setelah ia ingat ucapan Diandra bahwa Diandra malu jika ibunya benar akan berjualan di sekolahnya, Aini pun mengurungkan niatnya untuk membantu bu Rosdiah karena takut Diandra marah padanya.
“Sebenarnya sih Aini ingin mengantarkan ibu, tapi sebentar lagi bel istirahat akan habis bu. Mungkin Aini titipkan salam dari ibu ya untuk Diandra.” jawab Aini dengan perasaan bersalah.
“Yaudah… tolong titipkan salam ibu untuk Diandra ya Aini, Dika!” ujar bu Rosdiah dengan perasaan kecewa.
Aini dan Dika pun pergi ke kelas meninggalkan bu Rosdiah dengan perasaan bersalah.
“Sintia…Kamu beli apa?” tanya Tivanna berakting di depan Diandra yang sedang termenung.
“Eh, Tivanna… ini lho aku beli pisang goreng sama ubi goreng ala mbok Rosdiah. Katanya sih enak.” sindir Sintia dengan tatapan tajam kearah Diandra.
“Hati-hati lho katanya sih sekarang gorengan udah pada pake boraks. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu” ucap Tivanna.
“Wah, kalau begitu aku buang saja deh,dasar penjual yang curang! Mata hanya sebelah masih saja curang!” ucap Sintia sambil membuang gorengan itu ke lantai.
Diandra hanya ternganga melihat tingkah mereka tanpa bertindak apapun. Hal itu membuat Tivanna dan Sintia semakin senang memojoki Diandra.  Saat kejadian, Dika dan Aini masuk dan terkejut melihat gorengan hasil kerja keras bu Rosdiah tergeletak di lantai dalam keadaan hancur. Aini merasa kesal pada Diandra karena ia tidak bertindak sama sekali. Tampang marah saja tidak.
“Di, kok kamu diam saja? Mengapa kamu tidak cegah mereka agar tidak membuang hasil jerih payah ibumu? Keterlaluan kamu Di! Tadi…ibumu bilang ingin sekali bertemu denganmu, tapi aku jawab tidak bisa dengan alasan bel istirahat akan habis. Ibumu hanya menitip salam untukmu” ujar Aini dengan perasaan bersalah pada bu Rosdiah campur kesal pada Diandra.
“Pernyataan mereka memang benar, ibuku memang buta sebelah dan hal itu buatku risih Aini! Mungkin, dengan aku diam saja, itu bisa buatku melatih diri menjadi pribadi yang tegar Ai.” jawab Diandra kesal.
“Diam bukan berarti kita tegar Di! Diam hanya akan kita kalah dari orang yang gak penting kayak mereka!” tegas Aini.
“Be-betul Di. A-apa mau harga di-diri ibumu di-pandang ren-rendah oleh geng yang gi-gila itu?!” timbrung Dika dengan memberi semangat.
“Kalian bicara seperti itu karena kalian tidak sedang berada di posisiku! Kehidupan kalian sempurna! Kalian tidak pernah mendapat ejekan dari teman-teman di kelas! Selalu aku yang menjadi bahan ejekan!” pekik Diandra.
“Kamu tahu apa yang buatku kagum padamu? Kamu itu pintar Di! Dengan kepintaranmulah orang memandangmu tinggi!” jelas Aini.
 Diandra hanya terdiam dengan ucapan Aini. Tidak hanya Diandra, Aini dan Dika pun ikut diam. Semua hanyut dalam kebisuan. Tidak ada satupun diantara mereka yang membuka pembicaraan. Sampai akhirnya bel pulang berbunyi yang dapat mengembalikan mereka seperti sedia kala.
Assalamu’alaikum…” ucap bu Rosdiah saat sampai rumah dengan perasaan lelah.
“Ibu!! Kenapa ibu harus berjualan di sekolahku?!!” tanya Diandra dengan kasar mengagetkan ibunya yang baru saja pulang.
“Emangnya kenapa nak? Ibu baru tahu, ternyata letak sekolahmu di situh ya? Tadi ibu sempat mencari-cari kelasmu tapi ibu takut lupa jalan karena sekolahmu luas sekali. Kenapa kamu tidak menemui ibu di kantin? Senang sekali ibu tadi bisa bertemu dengan Aini dan Dika, oiya apa kamu sudah menerima salam dari ibu yang dititipkan ke Aini?” ucap bu Rosdiah dengan tiada hentinya menceritakan kejadian di sekolah Diandra menimba ilmu.
“Sudah. Bu, aku risih melihat ibu berjualan di sekolahku! Aku malu dengan teman-temanku! Ibu tahu?! Dengan mata ibu yang *pecak, teman-temanku selalu mengejekku! Aku malu bu!” pekik Diandra.
“Maafkan ibu nak…ibu telah membuatmu risih, tapi hanya itu tempat bagi ibu untuk berjualan. Ibu sudah renta nak…ibu sudah tidak kuat berjalan mencari uang untuk biaya hidup kamu.” jawab bu Rosdiah dengan perasaan sedih.
“Lebih baik aku tidak usah sekolah selamanya daripada aku harus menanggung semua ejekan teman-temanku!” pekik Diandra sambil menutup pintu dengan kencang dan pergi.
Setelah Diandra pergi meninggalkan ibunya yang hanyut dalam kesedihan, bu Rosdiah hanya bisa berdo’a dan berdo’a agar kekhilafan anaknya bisa diampuni oleh Yang Maha Pengampun. Lalu, bu Rosdiah menulis surat yang diiringi dengan air mata yang terus jatuh dan hatinya yang begitu sakit mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Diandra. Namun, demi kebahagian anak satu-satunya, ia rela pergi dengan menyimpan surat yang telah ia tulis diatas meja.
“Apa harus, aku pulang? Bagaimana jika esok ibu masih berjualan di sekolahku?! Ah tidak! Aku tidak mau pulang sebelum ibu pergi dari sekolah! Tapi… sampai kapan aku harus berdiam diri di sini?” pertanyaan yang terus diucapkan oleh hati Diandra yang sedang dilanda perasaan tak menentu. Rasa kesal, marah, dan gelisah ia rasakan malam ini. Keadaan taman yang mulai sepi, Diandra pun memutuskan untuk pulang walaupun dirinya harus bertatap muka dengan ibunya yang telah dibuat sakit hati olehnya.
Setelah sampai di rumah, Diandra mengucapkan salam dengan perasaan takut dan malu karena telah membentak ibunya.
Assalamu’alaikum …buu!” ucap Diandra sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari ibunya. Sampai di meja makan, ia melihat sepucuk surat yang ia rasa ditujukan untuknya.
Sebelumnya, ibu minta maaf  kedatangan ibu ke sekolahmu telah membuatmu risih dan karena ibu, kamu menjadi bahan ejekan di kelas. Ibu tidak bermaksud untuk membuatmu malu, ibu tidak tahu dengan keadaan ibu yang buta sebelah ini membuatmu malu sampai-sampai kamu tak ingin menemui ibu. Tapi apa kamu ingat dengan kejadian masa kecil dulu? Saat kamu terjatuh dari sepeda dan matamu mengenai batu, kamu ingat dengan kejadian selanjutnya? Dokter menyarankan agar ada seorang atau siapapun yang mau memberikan matanya padamu atau kamu akan mengalami buta sebelah selamanya seperti yang ibu alami sekarang. Saat itu, ibu langsung memberikan sepasang mata padamu, karena masa depanmu lebih penting dari hidup ibu. Demi kebahagianmu, ibu rela berbuat apa saja asalkan kamu bahagia, dan sekarang apabila kepergian ibu membuatmu bahagia, ibu akan pergi walaupun ibu masih ingin menghabiskan waktu singkat ibu bersamamu sampai ajal menjemput. Ibu sudah titipkan kamu pada om fadli. Dengan begitu kamu tidak perlu merasa risih lagi.
“Ternyata… sebelah mataku adalah mata ibu?”  pertanyaan yang menghantui pikiran Diandra.
Setelah Diandra membaca surat dari ibunya, air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang manis. Ia tidak bisa membohongi perasaannya bahwa ia juga tak ingin ibunya pergi. Penyesalan yang begitu dalam, membuatnya tak bisa memaafkan dirinya sendiri yang telah membuat hati ibunya sakit. Akhirnya, ia pun keluar rumah untuk mencari ibunya yang mungkin tidak terlalu jauh untuk dikejar. Penyesalan mengiringi langkah pencariannya, hanya “ibu” yang selalu ia sebut. Halte demi halte telah ia lalui tapi masih belum menemukan ibunya. Setiap orang ia tanyakan ciri-ciri ibunya, tapi tetap saja hasilnya nihil. Rasa lelah menghentikan langkah Diandra untuk terus mencari ibunya. Ia pun beristirahat di sebuah warung kecil pinggir jalan yang ramai untuk membeli minuman. Masih dalam keadaan gelisah, mata Diandra selalu saja melirik ke kanan dan ke kiri berharap matanya bisa menangkap sosok ibunya. Tak sengaja ia melihat kearah toko perhiasan yang sudah tutup dan wanita separuh baya yang sedang tertidur pulas beralaskan Koran dan tas bawaannya yang masih kurang untuk dijadikan bantal.
“Ibu??” tanya Diandra menghampiri dengan ragu.
“Dian? Sedang apa kamu di sini? Kamu belum tidur?” jawab bu Rosdiah dengan penuh perhatian, berusaha bangun meskipun matanya masih mengantuk.
“Ibuuu… maafin Dian bu, Dian udah ngebentak ibu, Dian udah menyakiti perasaan ibu, Dian udah..aahhh ibu..” ujar Diandra dengan terputus-putus karena rindu pada ibunya. Diandra pun langsung memeluk erat ibunya.
“Dian, sebelum kamu minta maaf, ibu telah memaafkan kamu terlebih dahulu kok. Dian memang tak punya salah apa-apa pada ibu.” ucap bu Rosdiah dengan halus karena rasa sayangnya yang tulus.
“Bu, terima kasih ya sudah memberikan mata ibu pada Dian…Dian tak tahu harus balas dengan apa. selama ini, Dian telah di butakan oleh geng yang gak penting itu! Yang telah menghilangkan percaya diri Dian,. Sekarang Dian sadar, ternyata ibu, Aini, dan Dika lah yang perhatian sama Dian” ucap Diandra dengan perasaan senang.
“Kamu tidak perlu membalas apa-apa. Ibu akan senang, jika melihatmu senang nak..” jawab bu Rosdiah dengan tulus.
“Hmm..ibu besok masih berjualan di sekolahku kan? Aku akan temani ibu berjualan di kantin.” ujar Diandra.
“Benar kah? Tidak merasa risih lagi?” jawab bu Rosdiah dengan nada menyindir.
“Tidak dong bu…Dian kan sayang ibu hehehe, muach” ucap Diandra malu-malu. Sambil mencium pipi ibunya.
“Ibu, juga sayaaanngg Dian, muach” bu Rosdiah membalas ciuman Diandra.
Semua seperti sedia kala. Diandra kembali menjadi manusia yang baik hati, sederhana, dan pandai bersyukur. Ia telah jadikan masa lalunya sebagai pelajaran yang akan mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.






*pecak (bahasa sunda) : buta sebelah. Hanya satu mata saja yang berfungsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar