Sabtu, 21 April 2012

Karya Tulis Kesanitasian


Di tengah hirup pikuk panggung politik, rasa galau menyeruak jiwa. Sekelumit tanda tanya menggelitik. Seperti apakah sebenarnya negeri ini? Terbesit untuk membuka mata,hati,dan pikiran kita yang tertuju kepada lingkungan. Perhatikanlah lingkungan kita yang semakin hari semakin memburuk! Tidak ada sama sekali kepedulian dari diri sendiri maupun oranglain. Apakah kita tega melihat bumi kita yang tercinta ini habis di lahap oleh sampah-sampah? Lalu, dimana letak tanggung jawab kita untuk menjaga bumi ini agar tetap bersih dan asri? Bukankah kita dititipkan oleh tuhan untuk menjaga bumi ini sebagai sumber kehidupan yang utuh? Sedangkan akhir-akhir ini, sering sekali di beritakan oleh media massa tentang banyaknya bencana-bencana banjir yang disebabkan oleh sampah.
Betapa baiknya tuhan telah memberikan peringatan kepada kita agar kita mau merubah kebiasaan buruk kita dalam persoalan sampah di negeri ini. Apakah kita ingin bencana banjir terus merajalela? Tentu saja tidak! Saatnya kita bangkit dari gaya hidup yang modern dan kemajuan teknologi yang pesat ini! Yang menyebabkan diri kita lalai untuk memperhatikan hal kecil sekalipun yang berkembang menjadi masalah serius masa depan negeri ini.
Saatnya kita renungkan sejenak dari segala persoalan sampah di negeri ini, yang tak kunjung selesai. Persoalan yang kita anggap remeh, padahal orang di luar sana, sedang hibuk mencari jalan keluar bagaimana sampah kita ini bisa terselesaikan dengan baik dan tidak merugikan oranglain. Lalu, pernahkah kita mencemaskan banyaknya tumpukan sampah, yang ternyata semakin hari semakin meninggi?? Atau pernahkah terbesit dipikiran kita cara menyelesaikan sampah? Meski hal itu dimulai dari lingkungan rumah kita? Jawabannya adalah tidak! Mengapa? Karena bagi sebagian orang sampah merupakan masalah yang tidak menarik untuk dibicarakan, karena masih banyak hal lain yang lebih menarik dan lebih penting untuk dibicaakan. Betul kan?
Sudah bertahun-tahun lamanya bahkan sejak dahulu kala, masalah sampah bukanlah dianggap sebagai suatu masalah. Bagi mereka, jika sampah sudah dibuang, maka masalah telah selesai. Benarkah jika sampah sudah dibuang masalah telah selesai begitu saja? Tentu tidak. Mereka lupa, bahwa tempat dimana sampah dibuang itu sangat penting.
Karena sebenarnya, sampah yang tidak dibuang pada tempatnya akan menimbulkan banyak masalah. Sampah yang dibuang secara sembarangan di jalan, akan membuat kota menjadi kotor. Sampah yang dibuang ke sungai, akan mencemari air sungai dan menimbulkan banjir. Bahkan, sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir(TPA) pun bisa menjadi masalah.

          Maka dari itu, sebelum semakin banyaknya masalah sampah di negeri ini, rasanya mulai sekarang kita harus semakin bijak dalam berurusan dengan sampah. Kita dapat memulainya dari berfikir dulu sebelum membuang sampah.

          Lalu, apa yang dimaksud dengan sampah? Sampah dapat di definisikan sebagai sisa dari hasil kegiatan makhluk hidup yang tidak diinginkan dari berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan isu yang berkembang dimana-mana. Di seluruh dunia, orang menggunakan sekitar satu juta kantong plastic setiap menitnya. Bayangkan! Betapa semua orang di seluruh dunia sangat membutuhkan kantong plastic.
Sedangkan, kantong plastic itu sendiri sangat sulit sekali untuk di urai. Butuh ratusan bahkan ribuan tahun untuk bisa terurainya. Mereka, memecah menjadi potongan mungil dan mungil bit beracun yang dapat mencemari air, udara dan tanah. Namun, tidak semua jenis kantong plastic sulit terurai loh! Ada dua macam jenis kantong plastic yang tidak membutuhkan proses degradasi terlalu lama antaralain jenis bio-degradable dan oxo-degrable. Jenis kantong plastic bio-degradable membutuhkan waktu sepuluh minggu untuk bisa diurai. Contohnya pada polybag. Ia dipilih untuk pembibitan tanaman, karena ia tidak merusak unsure hara didalam tanah. Sehingga,tidak merusak tanaman dan mudah di urai. Kantong plastic jenis ini terbuat dari bijih plastic yang dicampur dengan tepung tapioca atau tepung jagung. Alami bukan? Sayangnya, karena kantong plastic ini terbuat dari bahan alami tersebut, biaya pembuatannya tinggi. Sehingga, harga jualnya pun lebih tinggi dari harga kantong plastic biasa. Selain bio-degradable, ada pula oxo-degradable. Jenis kantong plastic ini terbuat dari bijih plastic ditambah zat lain atau zat aditif yang menyebabkannya mudah di urai. Contohnya pada kantong plastic yang bertuliskan oxium dan epi. Kantong plastic ini membutuhkan waktu dua tahun untuk proses penghancurannya. Lumayan singkat bukan?
Namun tetap saja, yang dinamakan kantong plastic, pasti mengeluarkan gas rumah kaca saat proses pembuangan ke TPA.
          Sedangkan di berbagai Negara seperti china, jepang, Taiwan, belanda, dan swiss telah baik menyingkirkan kantong plastic sama sekali. Generasi orang Jepang telah menggunakan teknik kain lipat yangdikenal sebagai furoshiki yang berguna untuk membungkus hadiah dan membawa belanjaan. Berbeda dengan Negara kita, Negara Indonesia yang cukup sulit untuk mengurangi penggunaan kantong plastic yang bersifat praktis itu. Lalu, bagaimana mengatasi permasalahan yang ditimbulkan oleh sampah kantong plastic itu, sementara kita sehari-hari sudah tergantung pada kemasan plastic itu? Ya, kita bisa memulainya dengan menggunakan keranjang saat berbelanja.
          Pada abad XXI ini, persoalan lingkungan memang telah bertambah semakin rumit. Persoalan lama pun masih banyak yang belum berhasil diselesaikan seperti sampah dan bencana alam yang menimbulkan dampak lingkungan. Terutama persoalan sampah di kawasan perkotaan yang terus meningkat. Kemungkinan besarnya yakni, banyaknya pabrik industry dan pertambahan penduduk. Nah, setiap pabrik pasti menghasilkan limbah kan? Limbah pabrik dikategorikan sebagai limbah yang berbahaya karena limbah ini mempunyai kadar gas beracun. Kita semua pasti sudah pada tahu kan, limbah tersebut nantinya akan dibuang kemana? Ya, tempat yang dipakai untuk pembuangan limbah pabrik adalah sungai-sungai di sekitar tempat tinggal masyarakat. Hal itu menyebabkan sungai tidak berfungsi lagi untuk dipakai dalam kegiatan sehari-hari. Tetapi, tidak jarang juga loh, mayarakat disana mempergunakan sungai tersebut untuk kegiatan sehari-hari seperti MCK(mandi, Cuci, Kakus) dan secara langsung gas yang dihasilkan oleh limbah pabrik tersebut telah dikonsumsi dan dipakai oleh masyarakat. Air sangat berpengaruh pada kehidupan organisme didalamnya. Maka, sumber daya air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sehingga, air yang sudah tercemar oleh limbah pabrik tidak boleh digunakan untuk keperluan sehari-hari terutama untuk minum. Lantas, bagaimana cara agar air limbah tersebut tidak merusak ekosistem dalam air? Nah, cara alternative untuk penanganan ini yaitu Instalasi Pengolahan Air Limbah(IPAL) dan tidak luput dari sanitasi.
          Lalu, apakah sanitasi itu? Sanitasi adalah proses pembudidayaan hidup bersih dan sehat agar tidak bersentuhan dengan bahan buangan seperti tinja dan bahan buangan domestic(air seni,sisa cucian). Wawasan tentang sanitasi ini masih minim di kalangan masyarakat yang menetap didekat sungai salah satu faktornya yaitu, keterbatasan ilmu pengetahuan mereka tentang sanitasi. Apabila air sungai telah diolah, manfaatnya pun akan terasa oleh kita. Antaralain kita bisa menggunakan air sungai yang sudah diolah tersebut untuk MCK tanpa khawatir ada bakteri yang masuk ke tubuh kita. Dipakai untuk minum pun tidak masalah! Karena sudah aman. Asalkan kita, memasak air tersebut sampai mendidih atau matang.
          Sanitasi dan IPAL saja tidak cukup loh! Perlu ada rencana bagaimana pengolahan air ini akan terus berjalan seiring dengan waktu dalam jangka waktu yang lama. Di saat ini lah pemerintah dan warga harus bergotong royong membuat drainase! Drainase ini sangat berhubungan sekali dengan air. Apabila tadi kita sudah menjelaskan tentang air limbah, nah, sekarang kita menjelaskan tentang bagaimana air limbah tersebut dapat disalurkan ke suatu tempat tanpa menimbulkan dampak social yang berat. Sudah terbayang kan, apa itu drainase? Drainase adalah bangunan yang berfungsi untuk mengalirkan air. Drainase ini berperan sebagai usaha untuk mengendalikan air hujan yang berlebihan agar tidak banjir. Saluran drainase juga bermacam-macam, yaitu saluran alam, meliputi sungai, selokan,dan sungai. Berikutnya, ada saluran buatan yaitu saluran yang sengaja dibuat oleh manusia dalam upaya pengamanan air mnum agar tidak tercemar dengan bakteri yang meliputi irigasi dan parit pembuangan.
          Dapat ditarik kesimpulan bahwa factor paling utama rusaknya bumi kita ini adalah sampah. Akibat sampah, air sungai tercemar dan akibat sampah pula yang mengharuskan kita untuk membuat drainase. Lalu, bagaimana sampah bisa diminimalisir dan bencana pun tidak selalu datang?
Disaat inilah kita sebagai siswa mempunyai kewajiban untuk mengikuti kegiatan meminimalisir kan sampah menjadi benda pakai yang bermanfaat.
          Dengan adanya Pendidikan Lingkungan Hidup(PLH) di tiap-tiap sekolah, siswa diberikan pembelajaran bagaimana cara mengelola sampah dengan baik dan benar. Siswa juga belajar menghargai lingkungan, belajar bagaimana sampah itu bisa bermanfaat bagi manusia bukan hanya sebagai sesuatu yang kotor dan menjjikan saja. Di sekolah, siswa juga melakukannya bersama-sama. Sekolah, dapat dikatakan sebagai salah satu tempat aspek sanitasi lingkungan yang baik bila sekolah itu sendiri menerapkan rasa kepedulian terhadap lingkungan terutama kepedulian terhadap masalah sampah.
Dan di SMP Negeri 3 Purwakarta telah melakukan daur ulang pada sampah an-organik dan pengolahan pada sampah organic menjadi pupuk kompos yang berguna untuk menjaga kelangsungan hidup tumbuhan dan menjaga lingkungan sekolah agar tetap asri. Hal ini dilator belakangi karena TPA sebagai Tempat Pembuangan Akhir sampah yang bukannya mengurangi masalah hanya menambah masalah saja!
Karena TPA menggunakan cara penimbunan sampah terbuka yang akan menimbulkan dampak negative lebih besar karena selain bau tidak sedap, system ini juga dapat mencemari air yang berada di dalam tanah yang biasanya dipakai untuk minum bila kita memakai sumur.
Apa itu sanitasi lingkungan? Sanitasi lingkungan adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh setiap individu-indvidu, masyarakat, atau Negara untuk memperbaiki dan mencegah terjadinya gangguan kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh factor-faktor lingkungan hidup eksternal manusia.
          Dampak yang ditimbulkan oleh sampah cukup berbahaya dan mematikan loh! Antaralain penyakit kolera, diare, tifus yang menyebar sangat cepat karena virus dari sampah yang memiliki kandungan bahan kimia berbahaya berlebih dan penyakit Demam Berdarah(DB) yang meningkat sangat cepat di daerah yang lingkungan nya sudah tercemar oleh tumpukan sampah. Ada benarnya yang diungkapkan oleh anggota Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan lingkungan Tatar Sunda, Sobirin “pengolahan sampah menjadi solusi terbaik. Jika rumah tangga atau komunitas terkecil di lingkungan rumahnya belum bisa mengolah sampah, mendaur ulang, maka pemilahan menjadi langkah kecil terbaik.”
          Setelah kita mengetahui berbagai permasalahan sampah di negeri ini,apakah kita akan terus berdiam diri menunggu pemerintah bertindak? Tentu tidak. Kitalah yang harusnya memulai. Menunggu pemerintah bertindak, sama halnya menunggu bencana banjir datang.
Ayolah saatnya kita lakukan 3R atau Reduse, Reuse, dan Recyle untuk menanggulangi pencemaran tanah, akibat penumpukan sampah! Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari saat ini, dan lingkungan terdekat.
Reduse artinya mengurangi sampah. Hal ini dapat dilakukan bila kita mengikuti cara ibu-ibi zaman dahulu yaitu berbelanja memakai keranjang. Dengan demikian jumlah kantong plastic yang akan dibawa ke rumah akan berkurang. Selain itu, bila orang menggunakan kembali sapu tangan daripada tissue, disamping akan mengurangi sampahnya, dengan tidak menggunakan tissue dapat terjadi penghematan terhadap bahan baku tissue, yang tidak lain adalah kayu.
Reuse adalah penggunaan kembali sampah yang sudah terbentuk seperti penggunaan bahan-bahan plastic/kertas bekas untuk benda-benda souvenir, penggunaan kembali limbah botol-botol minuman dan masih banyak lagi.
Proses Recyle agak berbeda dengan kedua program sebelumnya. Dalam hal ini sampah sebelum digunakan perlu diolah terlebih dahulu contohnya seperti pada pembuatan pupuk kompos.
3R sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja serta tidak membutuhkan biaya yang besar. Hanya yang
menjadi permasalahan adalah diri kita yang tidak mau bertindak dan tidak mau berusaha ciptakan bumi yang bebas dari sampah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar